Sulis' posts with tag: makan-makan
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Jl. Panglima Polim 1 No. 65 Telp: (021)722-0227 |
Beberapa minggu yang lalu, aku bersama salah satu partner wisata kulinerku si Iyong, mencoba restoran yang khusus menjanjikan hidangan khas Bali bernama Ajengan yang terletak di bilangan Panglima Polim. Buatku ini adalah yang kedua kalinya, sedangkan buat Iyong ini adalah kali pertama. Dulu pertama kali aku ke sana, aku terkesan dengan hidangannya yang menurut aku pas banget rasanya buat aku yang memang suka masakan yang agak pedas2 dan berbumbu. Hanya saja waktu itu aku gak sempet pesan dulu beberapa hidangan khas yang memang perlu dipesan beberapa hari sebelumnya. Rencananya kali ini, aku mau pesan dulu hidangan yang aku sempat incar dulu seperti Jukut Ares, yaitu lauk pauk yang dibuat dari batang pohon pisang yang muda (anak pohon pisang) dicampur dengan balung ( tulang dengan sedikit daging yang masih melekat pada tulang) , sedikit daging dan bumbu. Cuma ternyata pemesanan setidaknya harus dilakukan 2 hari sebelumnya, sedangkan aku baru mau pesan sehari sebelumnya. Alhasil, aku terpaksa harus cukup puas dengan menu yang tersedia di hari itu saja..
Untuk menunya, aku dan Iyong sama2 pesan Nasi campur Ajengan (@ 35K) dan untuk lauk tambahannya kami pesan: 1 porsi Plecing Kangkung (10K), 1 porsi Sate Tusuk Sapi (20K), 1 porsi Tahu Gianyar (15K) . Untuk dessertnya, kami pesan: 1 porsi Banana Grill (15K) dan 1 Es Campur Ajengan (20K) . Minumannya cukup Aqua (5K) dan Ice Lemon Tea (10K) . Kalau aku perhatikan dari harganya sih, sepertinya Ajengan sudah naik harganya sejak aku terakhir ke sana tahun lalu. Yang penting sih, rasanya mudah2an tetap enaklah.. Hehehe..
Ya, nasi campur kami pun datang.. isinya adalah nasi putih dengan lauk pauk berupa be siap tutu (ayam dimasak bumbu kuning), telur bumbu bali, be siap pelalah (ayam panggang bumbu bali), dan be siap sambal matah yang disajikan bersama ikan tongkol serta jukut (kacang panjang, taoge plus bumbu urap)
Racikannya benar2 pas di lidah. Apalagi ditambah sate tusuk sapinya yang cukup empuk dan bumbunya yang meresap. Tahu Gianyarnya berupa tahu yang dipotong kotak2 ukuran sedang dan digoreng, lalu disajikan bersama sambal mentah yang dibubuhi sedikit kecap manis. Rasanya lumayan lah walaupun tidak istimewa sekali. Yang paling 'nampol' itu adalah Plecing Kangkungnya yang rasa pedas bumbunya benar2 'merasuk sukma'.. belum lagi kangkung rebusnya yang masih terasa renyah saat dikunyah, ditambah taburan kacang tanah goreng (salah satu ciri khas masakan bali, suka ditambahkan kacang goreng sebagai pelengkap).. Hmm.. nikmat sekali...
Untuk melengkapi kenikmatan yang cukup bikin lidah 'terbakar' itu, kami tuntaskan dengan menyantap hidangan penutup yang sudah kami pesan yaitu Banana Grill dan Es Campur Ajengan. Banana grill nya disajikan hangat dengan tambahan 1 scoop Vanilla Ice Cream di atasnya. Perpaduan antara harum pisang bakar dengan saus karamel yang hangat serta harum es krim vanila yang dingin menciptakan sensasi nikmat tersendiri. Bener2 mesti dicoba deh.. Es campurnya sangat menyegarkan, dengan isian buah lychee kaleng, pepaya, semangka, melon, cincau hitam dan kolang-kaling. Wah, plong banget rasanya.. (sekaligus juga kekenyangan..). hehehe. Total semua menu yang kami pesan hari itu adalah 192,5K (sudah termasuk PPN 10% dan service 5%).
Konon semua masakan di resto ini diolah sendiri oleh seorang mbok emban yang sejak lama sudah menjadi pengasuh dari pemilik restoran ini yang memang orang asli Bali. Karena kepiawaiannya mengolah masakanlah akhirnya mereka memutuskan untuk membuka rumah makan Ajengan ini. Ajengan sendiri dalam bahasa Bali artinya adalah makanan. Semua masakan di sini dijamin halal karena hanya ada menu ayam, ikan, bebek, udang dan sapi saja.
Buat yang tertarik mencoba penganan khas Bali lainnya, bisa dicoba Brem Bali, minuman khas Bali yang berkadar alkohol 5%, terbuat dari hasil fermentasi tape. Brem ini bisa dijadikan alternatif dan konon paling enak dinikmati dengan kacang Bali. Selain itu bisa juga dicoba Sangaran . Penganan ini terdiri dari ketan hitam yang dikukus plus pisang raja yang terlebih dahulu dibaluri tepung terigu lalu direbus dan kemudian dimakan dengan parutan kelapa muda.
Restoran ini juga melayani pesanan katering luar untuk acara kantor dan lain2. Sering pula digunakan sebagai tempat untuk ajang kumpul keluarga, arisan, ulang tahun sampai pesta pernikahan dengan paket ataupun prasmanan yang harganya berkisar antara sekitar 20K sampai 45K (++). Buka setiap hari dari pukul 11 siang sampai 10 malam. 
|  | Ini adalah kunjungan keduaku ke Resto Bali Ajengan di Panglima Polim.Nampak dari luar, bangunannya sudah khas Bali. Tidak terlihat seperti sebuah restoran, malah agak mirip ke bangunan sebuah Pura. Begitu masuk ke dalamnya, nampak suasana yang sangat asri dengan kolam dan beberap gazebo dengan tatanan taman gaya Bali yang sedap dipandang. Dan saat masuk ke dalam bangunan resto, maka akan langsung terasa suasana homy yang nyaman dengan meja2 dan kursi ukiran antik serta pencahayaan yang agak temaram, juga menampilkan suasana romantis tersendiri.
Makanannya enak, tempatnya pun khas Bali banget.. Very Recommended buat yang cari masakan khas bali kelas resto. Ah, jadi pengen ke sana lagi..
Buat yang mau tahu lebih banyak lagi mengenai restoran yang satu ini, baca reviewnya di di sini
|
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Eclectic | | Location: | Jl. Tanah Abang II No. 108 , Jakarta Pusat Telp: (021) 386-5803 |
Sejak liat reviewnya untuk pertama kali di majalah Sedap Sekejap beberapa bulan lalu, aku udah penasaran banget pengen nyobain resto ini. Huize Trivelli digambarkan sebagai resto bernuansakan kolonial era tempo doeloe yang menyajikan masakan2 otentik khas Belanda dengan percampuran Jawa (khususnya Jawa Timur), mengikuti asal usul pemilik resto ini, Ibu Wahyuni Baliningtiyas yang berdarah Jawa Timur. Menempati lokasi di sebuah rumah asli dari perumahan warga Eropa-Belanda yang dibangun sekitar tahun 1939, yang terletak di kawasan yang dulu dikenal dengan nama Laan Trivelli. Pada masa kolonial kawasan ini dibangun untuk area pemukiman milik bangsa Eropa-Belanda di Batavia. Makanan yang disajikan merupakan hidangan Indische yang bisa diartikan sebagai masakan tradisional Indonesia yang telah disesuaikan dengan cita rasa dan disajikan secara Barat (dalam hal ini Belanda). Pilihan menunya lengkap mulai dari Appetizer alias makanan pembuka sampai dengan Desserts atau makanan penutup. Seperti halnya rumah makan tempo doeloe yang menyajikan hidangan peranakan Belanda, maka Huize Trivelli pun menyajikan menu khas berupa aneka Rijsttafel , yang oleh resto tersebut dimasukkan dalam menu kategori Mini Rijsttafel in Harmonie. Menu Rijsttafel ini tersedia dalam beberapa pilihan mulai dari Mini Rijsttafel in Harmonie 1 - 4, yang isiannya berbeda2. Harga per porsinya Rp. 45K. Namun untuk bisa memesan menu Rijstaffel spesial ini, kita harus memesan 2 hari sebelumnya. Dan perlu diingat, bahwa Rijsttafel ini dibuat untuk minimal 6 orang. Berhubung aku gak melakukan pemesanan terlebih dahulu, terpaksa aku mesti sedikit gigit jari gak bisa mencoba menu Rijsttafel yang bikin penasaran itu. Namun menu2 lainnya pun tak kalah menariknya. Jadilah aku yang Sabtu sore kemaren itu akhirnya berkesempatan untuk mencoba resto ini bersama dengan Iyong yang sama2 juga gemar wisata kuliner, memesan menu: Champignon Soup (12.5K) , Chateaubriand Aux Champignons alias Beef Steak with Mushroom Sauce (45K) , Klappertaart Mousse (13.5K) dan Fresh Orange de Coco (10K) . Sedangkan Iyong memesan: Chicken Cream Soup (12.5K) , Black Pepper Steak (40K) , Macaroni Schotel (12.5K) , dan Bier Pletok a la Creme (12.5K) . Sambil menunggu pesanan datang, yang dilayani oleh para 'jongos', sebutan untuk pelayan pada masa kolonial Belanda yang ramah2 dan sangat santun, kami menikmati suasana antik resto yang terasa begitu tenang dan damai diiringi alunan musik jadoel yang rata2 beriramakan keroncong. Benar2 sangat menyenangkan sekali buat seseorang yang menyukai hal2 berbau sejarah sepertiku. Pesanan pertama datang.. Minumanku Fresh Orange de Coco adalah jus sunkist yang dipadu dengan santan. Rasanya segar dengan aroma kelapa. Sedangkan Bier Pletok nya Iyong yang sedianya adalah wedang Jahe dengan campuran secang yang menjadikan warna minumannya merah menggoda dengan rasa jahe dan aroma kayumanis yang menghangatkan tubuh, berpadu serasi dengan tambahan 1 scoop ice cream. Menciptakan sensasi yang unik namun menenangkan. Pesanan soup kami pun datang tak lama sesudahnya. Soupnya terhidang panas dengan rasa yang pas. Champignon soup ku terasa gurih nikmat, dengan rasa jamur yang renyah saat digigit. Juga dengan Chicken soup nya Iyong yang terasa sekali kaldu ayamnya. Mantaap.. Macaroni Schotel datang juga. Aku kebagian cicip lagi. Rasanya cukup pas dan gurih namun tidak bikin eneg. Cuma buat penggemar asin seperti aku (dan ternyata Iyong juga), macaroni schotel nya sedikit agak kurang asin sih.. but not bat at all.. Terasa sekali kalo macaroni schotel ini dibuat benar2 fresh from the oven . Steak kami datang hampir bersamaan. Steak pesananku dagingnya terasa empuk dan ternyata di balik siraman saus jamur, dagingnya sudah dipotong2 memanjang. Rasanya pun cukup mantap. Sedangkan black pepper steak pesanan Iyong nampak menggoda dengan taburan black pepper yang cukup pekat. Rasanya pun cukup meresap ke dalam daging. Disajikan dengan brown sauce yang dihidangkan secara terpisah. Seluruh steak dilengkapi dengan setup sayuran yang terdiri dari brokoli, buncis, wortel juga lettuce dan tomat serta kentang goreng. Klappertaart datang belakangan karena memang aku memesannya untuk disajikan setelah hidangan utama selesai. Rasa custardnya lembut membelai lidah, ditingkahi aroma dan sensasi rum yang cukup pekat. Daging kelapa mudanya pun terasa lembut digigit. Boleh juga.. hanya saja, lapisan putih telurnya agak terlalu tipis, jadi kurang berasa efek 'mousse' nya. Hehehe. Overall, menu2 di resto ini boleh lah diacungi jempol. Apalagi dengan suasana resto yang sangat mengesankan, pastinya menambah kenikmatan tersendiri. Sesuai dengan slogan "Feels Like Home" yang diangkat oleh Huize Trivelli, maka menikmati hidangan di resto ini memang seperti makan di rumah karena suasananya yang memang benar2 homey banget dan pastinya, makanannya pun terasa seperti makanan rumahan. Mungkin ini dikarenakan resto ini konon pemiliknya menyiapkan sendiri semua menu yang ditawarkan, bahkan sampai kadang pun sampai belanja sendiri ke pasar untuk memilih bahan2 dengan kualitas terbaik. Masakan2 di resto ini pun diklaim tidak menggunakan bahan pengawet ataupun penyedap sintetis. Dengan suasana jadoel dan hidangan yang ditawarkan, sebenarnya resto ini bisa pas banget buat acara2 keluarga bahkan candle light dinner karena memang terasa juga atmosfer romantisnya. Namun sayangnya, jangan harap untuk bisa makan malam terlalu larut di resto ini karena jam operasional resto ini adalah buka mulai jam 11.00 - 19.00 pada hari Senin - Jumat, dan pada hari Sabtu mulai jam 11.00 - 20.00 saja, sedangkan khusus untuk hari minggu resto ini tutup. I definitely will come back again later.. and I'll make sure that next time, I'll get my Mini Rijsttafel.. hehehehe... (sapa mau ikutan..?) special thanks to Iyong udah mau jadi partner wisata kuliner kemaren.. jangan kapok yah.. hehehe 
|  | Sepulang dari liat2 pameran di JCC bareng Fifo yang lagi mampir di Jakarta dari dinasnya di Vietnam sabtu kemarin ini, aku berencana mau wisata kuliner bareng si Iyong . Setelah diputuskan sebelumnya, kami sama2 mau nyobain Huize Trivelli yang sempat bikin aku penasaran itu. Setelah putar2 sekitar Tanah Abang beberapa kali demi mencari resto yang awalnya diyakini Iyong bernomor 18, akhirnya kami pun sampai juga menemukan resto yang setelah dikonfirmasi lewat telepon ternyata bernomor 108! Pantas aja, gak nemu2.. lha wong beda gitu nomornya.. alhasil kami jadi ketawa2 menertawakan 'kebodohan' kami. A 'zero' here sure makes a really big difference! :D
Memasuki resto ini seperti memasuki sebuah lorong waktu di mana kita seakan dilemparkan kembali ke masa lalu. Sambutan pramusaji berseragam yang begitu ramah mengingatkan kita akan keramahan khas yang terkenal dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak dulu kala. Suasana di dalamnya terasa sangat hangat, nyaman dan tenang sekali. Begitu kontras dengan hiruk pikuk lalu lintas di luar sana.
Sepanjang mata memandang, tampaklah puluhan bahkan mungkin ratusan foto dalam frame yang dipajang baik itu pada dinding maupun di atas lemari ataupun meja. Begitu juga dengan aneka koleksi benda2 antik seperti piring2 dari porselen dan guci2 keramik. Belum lagi alat2 musik jadoel seperti gramofon, organ tua dan furniture2 antik lainnya. Semua menambah 'khidmat' suasana.
Resto ini terdiri atas beberapa ruang. Ruang depan yang menyambung ke ruang tengah, dan ruang bagian dekat teras, juga 2 kamar lagi yang semuanya pun didekor secara cantik. Di beberapa sudut pun nampak sofa2 cantik yang bisa digunakan untuk santai2 sambil menikmati hidangan atau juga mungkin membaca buku2 bersampul kuno yang tersedia di sana. Alunan irama musik tempo doeloe mengalun lembut, ditingkahi suara gemercik air kolam menambah tentram suasana resto. Benar2 pas banget buat dijadiin tempat buat santai dengan handai taulan.
Berminat untuk mengunjungi resto ini? Bisa baca review-nya di sini :)) |
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | European | | Location: | Jl. Cihampelas No.34 Bandung Telp. (022) 420-5387, 423-7165 |
Sabtu lalu papiku bersama beberapa orang adiknya pergi ke Bandung untuk memenuhi undangan adik Oma yang akan menikahkan salah seorang cucunya. Seperti biasa, kalo pergi ke Bandung udah pasti bawa oleh2 banyak. Hehehe. Nah, salah satu oleh2 khas yang jarang banget bisa dijumpai di mana-mana termasuk Jakarta itu, adalah Ayam Kodok alias Ayam Cabut Tulang Mediterane. Jangan salah duga dulu buat yang kurang familiar mendengar istilah ayam kodok ini yah. Ayam ini bukan isinya kodok lho.. apalagi ayam blasteran kodok.. lebih gak mungkin lagi..hehehe. Ayam kodok ini merupakan hidangan dengan sentuhan western. Mirip dengan Stuffed Turkey/Chicken. Ayamnya sendiri sudah dicabut tulangnya, lalu daging isinya dikeluarkan dan dicincang halus, dicampur dengan bumbu2 dan bahkan kadang bisa juga dicampur dengan daging lain atau bahan2 lain, dan kemudian dimasukkan lagi ke dalam kulit rangka ayam, dijahit lalu dipanggang.
Proses pembuatan yang rumit dan memerlukan ketrampilan dan kesabaran ekstra ini menjadikan ayam kodok sebagai salah satu hidangan yang istimewa dan biasanya pun hadir pada kesempatan2 tertentu saja seperti pesta dan sejenisnya. Aku pribadi belum berani membuat sendiri ayam kodok ini. Makanya begitu tahu ada yang menjual ayam kodok siap beli seperti ini rasanya wuihh senang sekali. Hehehe. Sudah bertahun2 kami suka menyempatkan diri mampir ke tempat penjualan ayam kodok ini kalau kami kebetulan lagi jalan2 ke Bandung. Dan rasanya sampai sekarang masih cukup konsisten. Tempatnya sendiri sebenarnya bukanlah layaknya resto, melainkan sekilas seperti rumahan biasa. Waktu iseng googling tentang ayam kodok Mediterane ini anehnya gak ketemu satu result pun yang bener2 membahas soal si ayam kodok ini. Yang muncul malah Ayam Potong Mediterane. Mungkin usaha ayam kodok ini hanya sampingan saja kali yah..
Dulu banget aku pernah masuk ke bagian dalam rumah itu. Dan di sana aku melihat kesibukan beberapa orang pekerja yang nampak lalu lalang menyiapkan ayam2 kodok yang baru selesai dipanggang ke dalam kotak saji. Ayam2 ini sepertinya dibuat berdasarkan pesanan terlebih dahulu. Kecuali ada stok lebih, baru kita bisa membelinya.
Ayamnya tersedia dalam porsi regular dan jumbo. Porsi regular beratnya berkisar antara 700gr - 900gr dengan harga antara 80K-90K. Sedangkan yang paling besar (jumbo), beratnya sekitar 1,2 Kg dengan harga sekitar 100K. Paketnya dilengkapi dengan sayuran rebus segar yang terdiri dari kacang polong, buncis dan wortel yang warnanya memang bener2 masih segar dan menunjukkkan kerenyahannya. Dilengkapi juga dengan potongan2 french fries alias kentang goreng dan juga saus encer berwarna cokelat yang mirip sama kuah semur.
Nah, untuk saus ini, aku agak kurang suka karena menurut aku terlalu encer untuk hidangan ayam kodok. Mungkin konsep awalnya, sausnya memang sengaja dibuat encer seperti kuah itu karena untuk dimakan sebagai teman nasi (aku kok ya jadi inget sama selat solo yah.. ya kuahnya kurang lebih seperti itulah..). Biar lebih mantap, biasanya aku sengaja olah lagi sausnya agar sesuai dengan seleraku. Orang rumah sih juga jadi suka. Bahan tambahan lain yang aku tambahkan untuk sausnya:
1 sdm butter, dilelehkan.. lalu masukkan 1 sdm terigu, aduk rata. Perlahan masukkan kuah sausnya sedikit demi sedikit sambil terus diaduk agar tidak menggumpal. Tambahkan 1 sdm pasta tomat, 1/2 sdt pala bubuk, tambahan merica, garam dan gula pasir secukupnya, 2 sdm worchestershire sauce, 1 sdt mustard, 1/4 sdt marjoram dan 1/4 sdt rosemary lalu aduk dan masak dengan api kecil hingga kuahnya mengental. Saus yang baru siap disajikan. Dijamin top deh. Hehehe.
Kalo merasa Bandung kejauhan, di Jakarta juga udah dibuka kok cabangnya. Hanya saja, ada perbedaan harga yang cukup mencolok yaitu sekitar 30K.. lumayan banget kan bedanya? ya cuma kalo memang dah suka dan lagi kepepet butuh untuk acara2 tertentu, ayam kodok ini bisa diperoleh di:
Jl Tanah Abang II No.67A Jakarta Pusat Telp. (021) 381-4152
Ada baiknya kalo mau beli, pesan sehari sebelumnya agar terjamin ketersediaannya. Ketimbang nanti udah jauh2 dateng eh, gak kedapetan :p. 
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Chinese | | Location: | Plaza Senayan 3rd Level Unit 318C. |
Hari Minggu kemarin ini aku dan Bonet setelah sekian lama gak pergi bareng karena kesibukan kami masing2. Kebetulan sih dia dah nginep dari Sabtu malamnya. Pas minggunya kami berencana untuk nonton bareng di Plaza Senayan. Film yang ingin ditonton itu Enchanted. Cuma berhubung pas nyampe masih sisa waktu sekitar 45 menit, daripada duduk bengong2 aja, ya dah, cari makanan secara dah agak lapar juga. Kemaren sih tertarik untuk makan di Din Tai Fung Noodle Bar yang letaknya gak terlalu jauh dari bioskop. Resto ini sepertinya merupakan versi lain dari restoran Din Tai Fung yang pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu dari Top 10 Best Restaurant in The World. Merupakan restoran franchise yang sudah tersebar di beberapa negara/kota seperti Taiwan, Jepang, USA, Singapore dan Jakarta. Nah untuk yang di Jakarta ini, Din Tai Fung Noodle Bar merupakan cabang yang ke-3. Dan jangan khawatir untuk para muslim yang ingin mencobanya, karena resto ini sudah mendapatkan sertifikat Halal. Resto ini terlihat ramai sekali di pukul 4 sore kemaren itu. Setelah sempat menunggu beberapa menit, kami pun mendapatkan tempat duduk. Mulailah kami memesan makanan. Pengennya sih makan yang gak terlalu berat2 banget. Tapi biar bisa di-share berdua juga, kami pesan beberapa menu pilihan. Pilihan terutama pastinya jatuh pada Xiao Long Bau isi Kepiting dan Ayam isi 4 buah (38K), Jiaoze Sayuran dan Ayam isi 4 (20K), 1 porsi Mie Angsio Sapi dengan pilihan Mie Bayam (43K), 1 porsi Mochi isi 4 (8K), 1 Puding Triple Delight (30K), 1 Es Serut Puding Almond (20K), dan 2 Chinese Tea yang refillable (@7K). Setelah menunggu selama sekitar 8 menit, pesanan awal Xiao Long Bau kami datang dalam wadah kukusan dari bambu dengan asap yang masih mengepul. Din Tai Fung salah satunya terkenal dengan Xiao Long Bau-nya, yaitu sejenis dim sum mirip pau dalam bentuk mini, dengan kulit dumpling tipis yang ciri khasnya dibuat dengan 18 lipatan di atasnya. Resep ini konn sudah teruji selama 33 tahun. Pembuatannya dibuat menjelang disajikan jadi benar2 fresh. Cara memakannya pun unik, seperti dicantumkan dalam kertas yang dijadikan sebagai alas meja saji. Pertama, cuka hitam diaduk dengan irisan halus jahe segar, dicampur dengan soy sauce dengan perbandingan 3:1. Kemudian xialong bao diangkat (saat diangkat persis seperti kantong air, lentur) dan di taruh di atas sendok bebek. Saat ujung sumpit merobek kulitnya, akan terlihat kuah kaldu panas meleleh keluar. Setelah itu, Xiao Long Bau dicocolkan campuran soy sauce-black vinegar-irisan jahe. Disantap sambil menghirup kuah kaldu dari sendok bebeknya. Hmm...enak... kaldunya terasa pekat dengan kulit dumplingnya yang tipis dan filling kepiting dan ayam yang gurih terasa sangat pas sekali. Hmm.. kayaknya 4 masih berasa kurang deh. Hehhehe. Konon, kabarnya untuk menjaga konsistensi dari makanan di resto ini, diberlakukan sistem pungukusan dim sum dengan menggunakan komputer agar terjaga kualitas dan akurasinya lho.. ckckckckck... Setelah itu tak lama pesananku Mie Angsio Sapi datang dalam porsi yang cukup banyak jadi bisa dishare berdua. Mie bayam yang kupilih terlihat kontras dengan kuahnya yang berwarna kecokelatan dan harum bumbu ngohiang. Tampak di atasnya sekitar 3 potongan besar daging sapi dengan sedikit urat yang ternyata sama sekali tidak alot. Begitu dimasukkan di mulut, daging terasa lembut dan uratnya terasa sedikit kenyal namun tidak melawan dikunyah. Kuahnya cukup pas dan mie nya pun segar karena dibuat dengan tangan segera menjelang disajikan. Pesanan kami yang datang berikutnya adalah Jiaoze Sayuran dan Ayam. Jiaoze ini lebih umum dikenal sebagai Kuo Tie. Atau dalam kuliner Jepang dikenal dengan sebutan Gyoza atau Mandu dalam kuliner Korea. Rasa Jiaoze nya gurih dan sayurannya memberikan efek crunchy yang menyegarkan. Dicocol ke campuran soy sauce lebih mantap lagi. Mochinya pun lumayan.. tidak terlalu kenyal sekali seperti mochi Jepang. Ada sedikit rasa legit ketika digigit, dan gurih karena taburan kacang halus yang menyelimuti mochi itu. Dan sepertinya mochinya pun masih baru karena terasa agak hangat saat digigit. Enak, kata Bonet :)) Untuk dessert pesanan Bonet, Es Serut Puding Almond, tampak cantik disajikan dalam gelas saji pendek yang menyerupai gelas es krim. Dengan lapisan dasar berupa serutan es, puding almond yang diletakkan di atasnya begitu lembut membelai lidah. Serasa lagi makan tahu sutera. Segar dengan tambahan fruit cocktail di atasnya.. Hmm... Punyaku juga gak kalah atraktifnya. Sebagai salah satu menu yang direkomendasikan, Puding Triple Delight memang terlihat 'menjanjikan'. Bagaimana tidak, penampilannya saja cantik sekali. Disajikan dalam sebuah gelas lurus polos biasa, dengan lapisan pertama berwarna hijau yang ternyata adalah lapisan puding green tea, di atasnya berupa lapisan putih bening yang merupakan puding aloe vera dan di lapisan ketiga, berwarna kuning jingga yang merupakan juice mangga, lalu diakhiri dengan warna putih yang merupakan saus santan gurih dengan taburan potongan mangga di atasnya yang berbentuk dadu kecil. Rasanya unik, menyegarkan sekaligus juga eksotis. Overall, kami menyukai hidangan di sana. Hanya saja sangat disayangkan, kami tidak diperbolehkan mengambil gambar makanan yang disajikan di sana. Entah kenapa.. padahal kan kalo enak niatnya mau dipromosiin gitu.. Payah deh.. Untung masih sempat motret satu menu..itupun boleh pake handphone, jadi kurang begitu jelas.. Apalagi kalo bawa kamera segede gaban yah.. dah disita dulu kali.. hehehe.Jadi harap maklum yah kalo gambar makanannya kurang deskriptif. Dan oh ya, satu lagi.. harganya sih agak mahal yah.. Total 'kerusakan' sore itu adalah 190.300 rupiah setelah PPN 10%. Weleh..weleh.. padahal sih porsinya ya gak terlalu super banget.. malah bisa dibilang mini untuk dimsumnya. Tapi karena rasanya cukup memuaskan..yah.. kami pun malas berkomentar banyak soal harganya :p. Untuk lokasi resto Din Tai Fung lainnya di Jakarta bisa juga dijumpai di: DIN TAI FUNG Plaza Senayan Arkadia GF Unit X 101-103 Telp. (021)5790 1288 Pondok Indah Mal II Unit 352, North Skywalk Telp. (021)7592 1288 
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Jalan Lenteng Agung Raya No.18 Telp: (021) 98561361 |
Akhirnyaaaa… setelah sekian lama ‘diiming-imingi oleh cerita Dhani dan juga testimony mereka yang sudah berhasil terhasut oleh Dhani dan sudah jadi ‘komplotan’ penggandrung Mie Aceh Warung Si Doel, aku berkesempatan juga untuk mencobanya hari ini. Dan jujur sih mengingat lokasinya yang agak di ujung Jakarta itu, sebenernya agak ‘menguji’ tekad juga sih. Cuma berhubung dah berkali-kali tergoda tiap liat postingan foto-foto mie Aceh yang selalu sanggup menerbitkan air liur itu, makanya tadi siang, dengan penuh tekad, aku nekad pergi sendiri ke bilangan Lenteng Agung. Padahal seumur-umur sekalipun aku belum pernah ke sana. Hehehe. Setelah 3 kali ganti angkutan (naik busway dari depan rumah di Gajah Mada Plaza, turun di Semanggi, nyambung naik metromini jurusan Pasar Minggu, lalu lanjut naik mobil angkutan arah Depok), sampai juga di Waroeng Si Doel ini. Untung banget spanduknya sangat eye-catching.. kuning menyala (dan untung pula, pernah liat fotonya di MP nya Dhani :p). Turun dari angkot, segera aku masuk ke dalam Waroeng Si Doel. Ternyata masih sepi.. baru aku doang pengunjungnya. Yah, mungkin Karena jamnya masih nanggung.. jam 4 sore gitu. Hehehe. Ya tak apalah.. biar lebih ‘khusuk’ menikmati mie Acehnya :p.
Aku sms Dhani dan bilang kalo udah berhasil sampai di sana. Dan Dhani bilang dia mau nyusul. So, sambil nunggu Dhani datang, aku pesan menu special: Mie Aceh Komplit (daging, cumi, udang, kepiting, 25K) dan minumnya Es Lemon Teh --> memang ditulisnya demikian (3.5K). Sekalian juga pesan bungkus untuk orang di rumah: Mie Rebus Spesial (daging dan udang, 10K), dan Mie Goreng Spesial (daging dan udang, 10K).
Beberapa lama kemudian, pesananku datang.. Hmm.. wanginya semerbak.. Kuah mie Acehnya benar-benar kental dan keliatan sarat bumbu. Cuma tak nampak itu kepitingnya.. hmm.. mungkin lagi kosong yah.. Maksud hati ingin menunggu Dhani datang. Tapi karena dari pagi belum makan dan aroma mie Aceh depan mata sudah memanggil-manggil, akhirnya aku makan sesuap. Hmm..kuahnya terasa cukup mantap, dengan rasa pedas yang cukup, namun sepertinya perlu tambahan acar cabe rawitnya lagi. Lagi asik2 nyuap, ternyata gak lama Dhani datang.. Ini toh sang juragan mie Acehnya.. hehehe. Sambil ngobrol-ngobrol dan diselingi foto-foto iseng, tak terasa mie Acehnya sudah tandas, ludess.. Hmm.. kenyaanngg.. Es lemon tehnya terasa segar menetralisir pekatnya mie Aceh tadi. Yah.. bolehlah mie Acehnya.. gak heran juga kalo sudah banyak yang kepincut dan sakaw dengan mie Aceh nya si Doel. Dari skala 1-10, aku kasih nilai 8 deh :D.
Total makan di sana tadi berikut yang dibungkus pulang 48K saja. Malah tadinya Cuma dihitung 38K karena ternyata dia salah hitung pesananku yang dikiranya bukan komplit melainkan mie Cumi (15K). Aku jelasin kalo tadi itu pesannya mie komplit, walaupun memang gak keliatan kepitingnya. dijelaskan kalo kepitingnya pas lagi kosong, maka jumlah cumi dan dagingnya akan diperbanyak. Dan emang sih tadi cumi dan dagingnya cukup banyak dikasihnya. Coba kalo aku gak protes.. berarti dia rugi sepuluh ribu tuh. Hehehe.
Di Waroeng Si Doel ini juga dijual aneka juice yang dipatok rata-rata 5K saja, Nasi Goreng Spesial/Biasa (11K/9K), Roti Cane Susu (6K), Roti Cane Gula (5K), Mie Tumis Spesial/Biasa (10K/8K), Mie Rebus Spesial/Biasa (8K), dan juga Indomie (ya, Indomie!) Goreng/Rebus, Spesial/Biasa (8K/6K). Bedanya antara yang spesial dan biasa adalah ada/tidaknya penambahan daging/udang untuk isiannya.
Pikir-pikir ternyata sih ya gak jauh2 amat deh ke tempat ini. Jadi lain kali boleh lah mampir-mampir lagi. Hehehe. Thanks to Dhani yang udah rekomenin tempat ini sekaligus juga tadi ikut nemenin dan nganterin sampe ke terminal Pasar Minggu lagi
Review dan foto2 Mie Aceh Si Doel juga bisa dilihat di sini:
http://dezig.multiply.com/reviews/item/13
http://dezig.multiply.com/photos/album/274/Mie_Aceh_yuk..
Btw, mie gorengnya yang dibungkus bawa pulang ternyata enak juga.. :D
PS: Dhan, nanti gue gantian tantangin loe kalo gue dah nemu yang lebih oke lagi yakk.. hihihihi

 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Desserts | | Location: | E’X – Plaza Indonesia, Level 1 (ex.Fashion Bistro) dan Senayan City LG No. 27 |
Mau coba the creamiest ice cream on earth? Kalo jawabannya, berarti kalian mesti coba The Cream & Fudge Factory. Sesuai dengan tag line mereka, 'indulge yourself with the creamiest ice cream on earth', waralaba ice cream paling gres di ibukota yang berasal dari Thailand ini memang merupakan 'surga' buat para pecinta es krim. Karena tergiur mendengar cerita seorang teman kantor yang sudah mencoba kelezatan es krim ini, ditambah pula cerita sahabatku si Bonet (yang konon katanya sudah mencoba hampir semua pilihan menu di sana.. ckcckck..), aku mutusin untuk mencobanya akhir pekan kemarin. Janjian sama si Bonet dari Fitness First Senci, kita berdua akhirnya mencoba si es krim yang udah bikin penasaran itu. Kemarin ini sih, aku coba Queen of Chest yang terdiri dari rasa Choco chip, Brownie dan Caramel ( 61K), dan si Bonet pesan All Berries Cheese Cake yang merupakan kombinasi es krim dengan rasa dan taburan buah Blueberries, Strawberries dan Cherries dengan tambahan Crackers dan Caramel (61K). Wah.. porsinya besar sekalliii... dan memang, begitu mencicipi satu suapan pertama.. it was heavenly.. Es krimnya benar-benar creamy dan serasa lumer di mulut. Enak sekali. Ada satu keunikan dari The Cream & Fudge Factory yang mungkin jarang (thanks for the info, guys) kita temui di gerai es krim lain. Yaitu pengunaan frozen marble stone dalam mengolah setiap es krim yang kita pesan. Dengan cara ini konon es krim jadi tahan lama dan tidak cepat meleleh (sekitar 20-30 menit). Selain pesanan aku dan Bonet di atas, pilihan rasa es krim yang ditawarkan beraneka ragam. Antara lain : Oreo Cream & Fudge,Blueberries Cheese Cake, Chocolate Lovers, Strawberry Fantasy, What's Up Berry, dan masih banyak lagi. Promosi si Bonet, semuanya ENAK-ENAK! Perlu diingat sebelum memesan, bahwa porsi mereka itu besar sekali. Jadi kalo kalian bukan benar-benar penggemar es krim kelas berat, ada baiknya untuk mempertimbangkan memesan menu yang tertera di display karena porsinya benar-benar besar. Dan memang untuk menikmati es krim dalam porsi besar itu lebih baik dinikmati perlahan-lahan, tidak usah terburu-buru. Nikmati sensasi creamy-nya sampai suapan terakhir. Buat yang penasaran pengen tahu The Cream & Fudge lebih jauh, bisa juga diintip dulu alamat website-nya di sini: http://www.creamandfudge.comPS: mungkin buat yang gak gitu kuat dingin, sebaiknya jangan pakai pakaian yang agak minim, karena lokasi di kedua gerai tersebut cukup dingin.. ditambah sambil makan es krim.. wuih, rasanya bisa lebih 'menggigit'. (kecuali mungkin kalau datangnya berpasangan.. apalagi suap-suapan.. wah, itu sih hangat sekali. hahaha) Indulge yourself! 
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Jl. Biak No.33 |
Letaknya sih cuma di tenda pinggir jalan, bersebrangan dengan Soto Madura H. Ngatidjo yang juga ramai itu. Tapi coba kalo datang ke sana pas jam makan siang.. wuih, rame banget, terutama sama orang-orang kantoran.
Pertama ke sini diajak sama Papi. Beliau memang penggemar soto. Yang unik dijual di sini itu sate kuahnya. Sate kuah ini sebenarnya adalah daging sapi yang ditusuk seperti sate dan dibakar, lalu dagingnya dipisahkan dari tusuknya dan kemudian disiram kuah soto. Lalu diberi tambahan emping goreng, taburan bawang goreng dan daun bawang/seledri. Selain daging, tersedia juga bagian sapi lain seperti usus atau kikil.
Sensasinya jadi beda karena efek daging yang sudah dibakar itu. Jadi harum dan pas banget berpadu dengan kuah sotonya. Maknyusss gitu... Hehehe. Harga per porsinya berikut nasi hanya Rp.10K saja. Di meja disediakan juga tambahan pelengkap berupa perkedel yang cukup besar dan dibandroll 1000 perak.
Tapi kalo makan di sini sih, siap-siap untuk keringatan, apalagi ditambah dengan menyantap kuah soto panas.. Jangan lupa bawa tissue atau saputangan yah :-) 
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Komp Puri Delta Mas Blok A No. 21 Bandengan Selatan Pluit, Jakarta Utara Telp.: (021) 6667-4180 |
Minggu siang ini sepulang gereja, kami bermaksud mencoba sebuah restoran yang direkomendasikan (baca: promosi) oleh salah seorang teman bokap, yang kebetulan adalah sekaligus pemiliknya dan baru saja membuka usaha resto itu. Lucunya, pas denger namanya, aku jadi teringat kalo belum lama ini teman aku pernah nyoba makan di sana juga seminggu yang lalu. Jadi lebih penasaran lagi pengen nyoba.. Lagian, siapa tau dapet diskon. hehehe.
Resto ini terletak di kompleks Ruko yang belum terlalu ramai disewa.. (jadi kesan sekilas agak2 sepi gitu). Gedung restonya sendiri cukup besar, menempati 4 buah ruko yang dijadikan satu. Nuansa di dalamnya juga adem, apik dan cantik..
Kami mencoba menu suki yang tersedia dalam 3 macam pilihan kaldu.. ada kaldu ayam, tom yam dan ginseng. Kami pilih yang kaldu ayam dan tom yam. Untuk 'isi' sukinya, kami dipersilahkan untuk memilih langsung di showcase-nya yang seperti rak berpendingin di supermarket. ada begitu banyak pilihan di sini. Aneka bakso dari udang, cumi, ikan, ayam, sapi.. pangsit, jamur, tofu, sirloin sampai aneka sayuran seperti siomak, pare, kangkung, selada, sawi dan masih banyak lagi. Harga rata-rata per porsinya 12.8K (untuk aneka bakso dan pangsit), khusus untuk sirloinnya yang digulung tipis bersama jamur enoki harganya dibandroll 25.8K. sedangkan untuk aneka sayuran segarnya berkisar antara 6.8 - 9.8K per porsi. FYI, satu porsi biasanya terdiri atas 4-5 pcs. Aneka kwetiau, bihun, soun dan mie basah juga tersedia dengan kisaran harga 6.8K. Khusus untuk mie kering telur, itu gratis... hehhehee.
Untuk menu 'sampingan' dipesanlah beberapa tambahan, yang katanya merupakan menu rekomendasi.. yaitu Ayam Nanking (18.8K), Sapi Iris Lad Hitam (24.8K), dan Baby Buncis Sze Chuan ( 16.8).. yang ini sih gak temasuk yang recommended, cuma kebetulan gambarnya di menu menggoda. hehehe. Kalo mau coba yang recommended untuk sayurannya, ada Brokoli Almond (20.8K). Minumannya standar aja deh.. es teh tawar yang refillable ( 2.8K).
Rasa kaldu tom yam sukinya menurut aku mantap.. asamnya pas.. enak banget buat dihirup.. begitu juga kuah ayamnya.. (tersedia juga minyak bawang putih lho di meja, jadi bisa ditambahin ke kaldu biar lebih wangi.. :p). Untuk menu ayam nanking nya, penampilan luarnya lebih mirip ke fu yung hai, karena setau aku, ayam nanking biasanya disajikan dengan saus cokelat yang sarat kecap inggris.. tapi ternyata dipadu dengan saus tomat asam manis dan kacang polong rasanya boleh juga. Buncisnya renyah dan nikmat dengan daging sapi cincang. Yang patut diacungi jempol adalah daging sapi iris lada hitamnya. Potongan daging sapinya cukup lebar dan rasanya sama sekali tidak keras/alot melainkan juicy.. ditambah lagi aroma lada hitamnya harum menggoda, dengan kadar kepedasan yang pas. Well recommended deh..
Selain menu Suki dan Chinese Food, tersedia juga aneka menu Western seperti Steak (berkisar antara 16.8K - 34.8K), Thai Foods (Tom Yum Goong Seafood, Tom Yum Oxtail dan Gurame Ala Thai yang berkisar antara 20.8K - 38.8K) juga menu Japanese (aneka Katsu dan Teriyaki), Sandwich dan masih banyak lagi. Overall, rasanya boleh diadu deh.. (eit, ini bukan sengaja promosi karena yang punya kebetulan temen papiku yah.. hehehe).
Anyway, total makan siang hari ini adalah sekitar 153K termasuk PPn 10%. Itu udah dapet diskon spesial 20% lho.. hehehe.

 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Jl. Raya Bendungan Hilir Kav. 36A No.16 Jakarta Pusat Telp. (021) 573 - 6718 |
Sebenernya sih ini tempat makan yang udah dikunjungi lebih dari sebulan lalu. Gak ada persiapan juga waktu itu, spontan aja..makanya foto pun ala kadarnya dari kamera handphone. Lama gak ke-review karena bon-nya terselip entah di mana. Jadi pas kemaren nemu, pikir mau bikin reviewnya aja deh sekalian. hehehe.
Restoran ini udah cukup sering disebut dalam beberapa tulisan Pak Bondan Winarno di kolom JalanSutra-nya. Juga pernah ditampilkan dalam acara Wisata Kuliner beberapa waktu silam. Penasaran juga sih.. cuma berhubung jarang 'main' ke BenHil, jadi suka agak mengurungkan niat.
Waktu itu juga niat sebenernya sih pengen nyobain Mie Bangka 39 yang letaknnya di belakang Wisma GKBI, karena tergiur dengan review-nya si Jen di Jenzcorner.com. Tapi setelah muter-muter dan akhirnya nemu ternyata malah udah tutup. Jadilah kami muter balik lagi dan memutuskan untuk makan di sini aja.
Di bagian depan rumah makan terdapat space kecil untuk membuat martabak Aceh dan juga teh tarik. Memasuki ruangan dalam rumah makan ini, yang terdiri dari 2 lantai, ternyata cukup nyaman karena ber-AC juga tertata lumayan apik dan bersih. Segera kami memesan menu karena perut sudah keroncongan kelamaan muter-muter sebelumnya. Si pelayan menanyakan kita mau menu nasi dan lauk yang diantar langsung ke meja (seperti rumah makan Padang) atau mau pilih lauk sendiri. Si Pepet dan Edo mau nyoba menu nasi dan aneka lauk, tapi milih sendiri langsung ke bagian 'etalase' depan. Mereka pilih lauk: 1 porsi Ayam Tangkap (15K), 1 porsi Kari Kambing (11K), 1 porsi Terong Cabe Hijau (8K), 2 potong Kari Bebek (16K). Sedangkan aku mau mencoba Mie Rebus Aceh Super Spesial (30K), dan papi nyoba yang versi biasa, daging sapi aja (15K). Untuk minumannya, aku pesan Teh Tarik (9K) dan yang lain sih yang standard aja, es teh tawar dan air mineral.
Pesanan mie rebus nya belum datang.. jadi icip-icip dulu lauk yang dipesan Pepet dan Edo.. Ayam Tangkapnya enak.. gurih dan agak garing.. disajikan bukan dalam potongan lengkap dan utuh melainkan sudah dalam potongan kecil-kecil berikut tulangnya. Setelah dibumbui, digoreng dalam wajan besar. Menjelang matang, dimasukkan daun salam koja/daun kari yang emang banyak digunakan dalam kuliner Aceh. Ditambah juga dengan rajangan daun pandan, cabe hijau serta rajangan bawang merah. Aku pernah baca di artikel JalanSutra-nya Pak Bondan bahwa ayam ini dikenal juga dengan sebutan Ayam Tsunami. Kenapa kemudian disebut Ayam Tangkap.. well, katanya sih karena konon pengunjung sering menggerutu saking lamanya menunggu. Soalnya menu ini harus digoreng berdasar pesanan, supaya lebih mantaph rasanya. Kebanyakan tamu yang suka gak sabar seringkali menggerutu dan bertanya "Ayamnya sedang ditangkap, ya?". Jadilah diplesetin namanya menjadi Ayam Tangkap. hehehe.. (tau bener tau ngga.. yang penting sih rasanya enak aja deh :p).
Terongnya juga sip... pas banget gitu bumbunya.. Emang aku termasuk penggemar terong sih.. Bokap, Pepet dan Edo juga suka sih.. Trus, Kari Kambingnya juga lumayan begitu juga dengan Kari Bebeknya.
Pesanan Mie Rebus Super Spesialku akhirnya datang. Kaget juga aku.. ternyata kepiting yang ditambahkan itu satu ekor, berikut dengan cangkangnya. Lha, aku pikir cuma dagingnya aja gitu.. Hehehe. Pantes namanya super spesial. Semua ngumpul jadi satu...ya udang, ya daging, ya cumi, ya si kepiting itu juga.. Makannya pun dilengkapi dengan alat jepitan khusus untuk kepiting.. (ah, agak nyesel juga.. ribet jadinya. hehehe). Untuk rasanya, well, menurut aku sih di luar kelengkapan isinya, biasa aja. Nothing special. Rasanya kurang spicy gitu deh.. agak hambar. Begitu juga dengan Mie Rebus Daging punya papiku. Masih lebih enak mie Aceh yang dijual depan gang rumahku yang dikelola oleh orang Aceh keturunan Bangladesh.. (sayang tuh, udah gak jualan lagi..).
Teh tariknya sih enak.., harum dengan aroma kapulaga dan kayu manisnya tapi tidak terlalu menyengat. Cuma walau udah bilang aku minta es batu (mengingat cuaca panas terik di luar), tetep aja nih teh tarik masih panas juga.. atau anget gitu (es-nya kedikitan, jadi keburu lumer). Males minta lagi.. so, what the heck :p
Makan siang hari itu totalnya habis 126.5K. Lumayan kenyang.. dan pastinya lain kali kalo ke sana lagi, aku mau nyoba menu nasi dan lauknya aja deh :-) 
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Barito (oops, lupa nomornya, di gang seberang Citibank Barito) |
Tadi siang, kebetulan abis nganterin adikku 'tercinta' si Vivi a.k.a Pepet ke dr. Kayama di bilangan Barito, kami berempat (satu keluarga bahagia :p), memutuskan makan siang di resto Dapur Solo yang gak jauh dari situ. Sebenernya sih, resto ini udah gak asing lagi buatku. Karena aku suka makan siang di resto pusatnya yang terletak di Sunter bareng temen-temen kantor. Bahkan, kalo ada acara meeting kantor, kami suka pesan paket nasi kotaknya.
Yang di Barito ini nampaknya cabang Dapur Solo yang masih gress. Berhubung yang lain masih 'awam' dengan menu-menu yang ditawarkan resto ini, aku merelakan diri jadi 'guide'nya, terutama buat si Papi yang suka bengang-bengong kalo mau mesen makanan. Si pepet mah jangan ditanya.. urusan makanan, otaknya dah langsung muter cepet. hehehe.
Saat si mbak pramusaji menjelaskan bahwa ada menu spesial hari ini yaitu Nasi Tengkleng (20K), aku langsung menjawab.. "Yaak..! Saya yang itu saja..". Hehehe. Ya, abis kalo menu yang ini aku emang belum pernah coba sih sebelumnya. Ditambah dengan pesanan si papi berupa Nasi Pecel Madiun (18K), Nasi Gudeg Ayam pesanan Edo (idem, 18K), Selat Solo (15K) dan Lontong Solo (15K) pesanan si Pepet (yak, benar.. dia pesan 2 macam). Untuk minumnya, aku seperti biasa kalo ke sana, pesan Es Gulas alias Gula Asam (6K), Es Oyen (8K), air mineral (3K), dan 2 es teh tawar @ 2,5K.
Gak lama pesanan datang.. Wah, di sini piringnya gede-gede banget... kontras banget sama isinya. Jadi keliatan 'minimalis' banget. hehehe. Kalo yang di Sunter, biasa disajikan di piring yang lebih kecil dan ditambah sepotong semangka (di sini tidak). Tengklengku lumayan banyak juga isinya, dengan kuah bening kekuningan.. Setelah aku cicip sih, rasanya agak kurang 'nendang', kurang spicy gimana gitu.. but it's okay lah. (btw, FYI, tengkleng itu masakan berkuah non-santan khas Solo berbahan dasar kambing yang seperti kombinasi antara tongseng dengan sop kambing. Hanya saja tidak disajikan dengan sayuran seperti tongseng). Nasi Pecel Madiun papi disajikan bersama daging empal (tersedia juga pilihan dengan sajian ayam goreng/bakar). Yang jadi ciri khas nya di sini nasi pecel selalu dilengkapi dengan telur mata sapi. Rasanya lumayan.. Untuk Nasi Gudeg Ayam pesanan Edo juga cukup oke lah rasanya.. (udah agak bosen juga kalo sama orang kantor pesanannya model gini juga.. hehhehe). Selat Solo yang merupakan hidangan Jawa dengan pengaruh Belanda ini mirip bistik tampil dengan kuah agak bening dan encer, disajikan dengan aneka sayuran dan potongan kentang juga saus mustard dan keripik kentang. Untuk Selat Solo, lagi-lagi sih aku berpendapat kalo rasanya emang kurang 'nendang'.. kurang pekat aja gitu, terlalu mild.. Si Pepet juga berpendapat sama denganku.. Tapi boleh dicoba lah.. Pak Bondan si Ketua Suku Jalan Sutra itu pun pernah mencicipi si Selat Solo dari resto ini dan beliau pernah berkomentar kalo rasanya cukup maknyusss.. :p. Untuk Lontong Solo yang mirip dengan Lontong Cap Gomeh itu.. rasanya sih so-so lah.. not bad..
Es Gulasnya seger banget buat diminum di siang yang terik.. apalagi aku ini termasuk pecinta rasa asam.. (kecuali bau asem..hehehe). Es Oyen nya juga lumayan buat mengusir rasa dahaga.. Secara si Ibu pemilik resto ini (Ny.Swan panggilan akrab Ny. Swandani, yang namanya dulu dipakai sebagai nama resto sebelum berubah menjadi Dapur Solo seperti sekarang ini), dulunya tuh usahanya adalah berjualan aneka es campur dan rujak.. (rujaknya boleh juga dicoba lho.. bumbunya cukup mantaph.. harganya.. 10K saja). Ada juga aneka serabi khas Solo dan penganan khas Jawa lainnya yang tak kalah menarik.
Total makan siang kami hari ini adalah 131.450 Rupiah berikut PPn 10%. Kesimpulanku, kalo mau makan paket yang murah meriah sih, boleh juga dicoba. Misalnya untuk meeting, arisan, dll.. Mereka juga menyediakan aneka paket untuk selamatan dan snack box. Harga nasi box nya tersedia dalam berbagai pilihan seperti Nasi Langgi Spesial Ayam (nasi putih dan kuning), Nasi Gudeg Ayam, Nasi Pecel Madiun, dan paket nasi lainnya dengan kisaran harga sekitar 18-19K.
Cabang Sunter:
Jl. Danau Sunter Utara R-36 (Seberang Sunter Mall) Sunter, Jakarta Utara DKI Jakarta - Indonesia PH 1: (021)640-5812

 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Indian | | Location: | Food Hall Senayan City Jl. Asia Afrika, Jakarta 10270 Telp. : (021) 571-9415 |
Mungkin buat sebagian orang, masakan India itu terlalu tajam baik aroma maupun citarasanya sehingga banyak yang kurang menyukai atau bahkan sudah antipati duluan terhadap masakan India. Memang, sebagian besar masakan India itu memakai aneka bahan dan bumbu rempah yang cukup kuat.. Namun demikian untuk penyuka masakan spicy seperti saya ini.. makanan India itu adalah salah satu alternatif yang menyenangkan sekaligus bikin penasaran.. :p
Walau pengalamanku dalam mencoba masakan India mungkin belum bisa dikatakan banyak, tapi aku akan mencoba untuk mereview beberapa restoran India yang kebetulan udah pernah aku coba.. Dan untuk kali ini salah satu di antaranya adalah Ganesha ek Sanskriti.
Resto India ini menyajikan hidangan India khas Utara.. Sekedar info, secara garis besar cita rasa masakan India itu dibedakan berdasarkan batas geografisnya. Wilayah India bagian selatan yang banyak dihuni suku bangsa Tamil lebih menyukai rasa pedas dan dominan dalam penggunaan santan, sementara di bagian utara yang dihuni antara lain oleh suku Punjab lebih menyukai rasa manis sedikit pedas dan gurih serta banyak menggunakan rempah-rempah.
Kebetulan Ganesha ek Sanskriti yang aku coba ini bukan pusatnya yang ada di Center Park Building Kompleks BRI II Lt. 9, melainkan yang berada di dalam area Food Hall Senayan City, tepat di balik stall Chopstix. Berhubung hanya berupa stall, menu yang ditawarkan tentunya tidak sebanyak yang ada di pusat.
Percobaan pertama waktu itu (sudah beberapa bulan yang lalu pastinya), dimulai pada saat siang menjelang sore setelah lumayan capek muter-muter bareng si Bonet (yah, lagi-lagi emang dia :p). Penasaran, akhirnya kami mencoba untuk dine-in alias makan di tempat, di atas kursi tinggi seperti di pub-pub, dengan menghadap langsung ke area kitchen yang memang ada di depan mata. Jadi sambil nunggu bisa sambil mengamati proses pembuatan orderan kami..
Yak, sebelum kebanyakan cerita, pesanan kami saat itu adalah Matter Paneer (semacam cottage cheese yang mirip tahu goreng padat, yang dihidangkan bersama saus kari dari peas, tomato & onion). Harganya agak lupa, tapi kalo gak salah sih gak semahal di resto pusatnya.. sekitar 25K (yah? hehehe). Trus pesen juga Cheese Naan (famous Indian leavened bread, with stuffed cheddar cheese inside) around 15K (i think..:p), juga Butter Naan (sekitar 10K yah), juga Raitha (Yoghurt with choice of onion or potatoes or mix vegetable) untuk cocolan naan-nya (kami pilih yang potatoes).. sekitar 13K.. Rasanya menurut aku dan Bonet cukup mantap.. terutama cheese naan nya.. suka banget deh.. wangi dan gurihnya keju serasa 'meleleh' di mulut.. hehehe
Pada beberapa kesempatan berikutnya pun kami (ya, kebetulan masih aku dan Bonet...-- FYI, bukan, kami bukan pasangan sejenis, and we're so normal :p--) masih menyempatkan untuk mencoba beberapa menu lain yang ditawarkan. Karena cukup 'intens'nya kami ke sana, sampai-sampai si mbak pramusaji dan koki yang bertugas di sana sudah cukup hapal dengan wajah kami.. malah si koki saat kedatangan kami yang pertama cukup 'surprised' karena nampaknya kami sangat menikmati hidangan di sana dan bertanya "wah, udah biasa makan makanan India yah.." hehehe (wah, ngga juga, pak.. emang kita ini doyan makan.. hahaha).
Menu-menu lain yang pernah dicoba dan tetep enak menurut penilaianku, bonet maupun adik-adikku yang udah pernah mencicipinya adalah: Rogan Josh (27K), yaitu daging domba cincang yang dibentuk bola-bola dan dimasak dengan bumbu kari yang rasanya cukup mild.. top lah.. juga ada Paneer Tikka (Mint stuffed cottage cheese yang dimasak dengan tandoor alias tungku pembakaran khas India, 35K), Papad (semacam crackers khas India yang agak mirip sama Nachos ala Mexico, only spicier --> 12K), Gosht Biryani (Aromatic basmati rice with lamb --> sekitar 45K). All were delicious...
Untuk minumannya yang udah pernah dicoba sih Mango Lassi (dari homemade yoghurt dan mango pulp --> 18K), dan Masala Tea ( Indian tea with milk and fresh ground spices like cardamom, etc.. sekitar 18K juga kayaknya :p). I think Masala Tea was too strong for me.. mungkin karena belum terbiasa aja yah.. aku lebih suka versi mild-nya, teh tarik, seperti yang ada di Chopstix itu.. hehehe.
Denger-denger sih katanya sekarang harga di situ udah pada naik lagi.. mungkin diseragamkan dengan yang ada di resto pusatnya. Btw, kalo gak mau rugi sih, mending coba all you can eat nya yang ada di resto pusat dengan harga kalo gak salah Rp. 60K ++. Di weekdays, mereka juga menawarkan pilihan lunch buffet dengan mematok harga Rp 45K ++ (11:30 - 15:00).
Alamatnya di:
9th Floor Center Park Gedung BRI II Jalan Sudirman Kav. 44-46 Jakarta 10210
for booking : Telp: (021)-571 - 9415, 571- 3567 or Fax at: (021) 571- 9957

 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Italian | | Location: | Senayan City Lt.4, Jl. Asia Afrika, Jakarta 10270. Tel (021) 7278 1088 |
Sebenernya ini resto yang udah lama banget pengen direview tapi belum kesampean.. (baca: belum mood a.k.a maless :p). Tapi berhubung lagi bengang-bengong terus berasa ini MP belum ada perkembangan lanjut yang berarti, akhirnya kepikiran juga buat bikin review lagi.. hehehe. Tapi harap dimaklumi, berhubung ini makannya udah lama juga, en waktu itu pas kebetulan lagi ditraktir, jadi gak gitu ingat persis harganya.. so, harga yang di sini adalah kisaran harga yang aku ingat aja yah :p.
Suatu sore, iseng jalan-jalan ke SenCi bareng Bonet en my little brother, Edo. pas ke sana, pengen nyobain resto Spageddies yang emang udah diincar cukup lama sebelumnya.. Resto ini terletak di lantai 4, bersebelahan dengan Hoka-Hoka Bento. Sesuai dengan namanya, resto ini pastinya mengusung masakan Italia.. hmm... One of my favourite cuisine!!
Memasuki resto yang hampir selalu dipadati pengunjung ini terasa banget suasana homey yang warm and cozy.. Mungkin karena suasana kekeluargaan ala Italia inilah yang ingin diangkat oleh resto yang katanya merupakan franchise dari Amerika, dan sudah terlebih dahulu berekspansi ke Singapura. Yang di SenCi ini adalah cabang pertamanya di Indonesia. Kursi-kursi dan mejanya seperti sengaja diletakkan berdekatan untuk menciptakan suasana yang lebih akrab..(walau kadang jadi agak gak comfortable aja karena privacy jadi agak berkurang).
Anyway, back to the food.. Pas kita buka buku menunya.. well..well..well.. looks like it's pretty pricey... harga main course nya rata-rata di atas 50 rb-an. begitu juga dengan appetizer dan dessertnya.. rata-rata 30 ribuan gitu.. Untung pas si Bonet lagi berbaik hati mau traktir (sebagai balesan traktiran2ku sebelumnya :p) jadi lebih tenang rasanya.. (tapi harus milih dengan bijak tentunya sebelum kena geplak.. hehehe).
Untuk appetizer dipilih Hot Loaf of Bread (15K), yang ternyata adalah semacam garlic bread gitu..disajikan hangat dengan pelengkap terpisah berupa bawang putih yang di-sautee agak garing dengan minyak zaitun yang juga diberikan ekstra untuk mencocol si roti. Untuk main course dipilih yang ada embel-embel Mama's Specialties..yang recommended lah.. Si Edo pilih Grilled Chicken Primavera (sekitar 60 K), yaitu spaghetti yang dihidangkan dengan irisan dada ayam yang dipanggang secara 'wood grilled', dilengkapi dengan tumisan yang berisikan brokoli, wortel, dan bawang putih serta taburan chilli flakes. Si Bonet order Combo Manicotti & Cannelloni (sekitar 60K) yang isinya itu berupa Canneloni yaitu sejenis variasi pasta berbentuk seperti silinder, yang berisi tumisan ayam dan jamur, disajikan dengan saus keju yang creamy dan saus tomat ala italia yang tasty banget.. Aku sendiri memilih Crispy Soft Shell Crab Arrabiatta (sekitar 65K), yaitu soft shell crab alias kepiting soka yang digoreng garing dengan bumbu black pepper yang agak spicy, dihidangkan di atas spaghetti yang ditumis dengan minyak zaitun dan bawang putih dan dilengkapi dengan proscuitto ham dan jamur serta tak ketinggalan saus ala Arrabiatta yang sedikit pedas.. Untuk minumnya kami bertiga sama-sama memesan Italian soda yang tersedia dalam berbagai rasa pilihan seperti Bbackberry, blueberry, lemon, passion fruit, peach, dan raspberry (14K). Aku pilih yang peach, Edo blueberry, Bonet raspberry. Seger juga...
Porsinya bisa dibilang jumbo.. makanya kami bertiga juga saling share, biar bisa tau rasa masing-masing pilihan kami. Dan untuk rasa kami bertiga sepakat kalo rasanya emang MAMAMIA.... top banget dah.. gak rugi juga walau agak mahal.. saus keju dan tomatnya tuh oke banget.. juga untuk soft shell crab ku,, ah, pas banget deh.. renyah sekaligus agak juicy dengan sedikit rasa pedas dari black pepper dan saus arrabiatta nya,, yang agak spicy namun sedikit asam-asam segar karena ada tomatnya juga. Chicken primavera nya Edo, juga gak kalah oke kok.. simply delicious :-).
Karena masih penasaran sama dessertnya, kami memesan Italian Chocolate Cake (30K), Cake ini sejenis warm chocolate cake yang nyoklat banget.. very moist and fudgy,, disajikan hangat lengkap dengan satu scoop Vanilla Ice Cream dan Chocolate Sauce.. Perpaduan hangat dari cake dan rasa dingin dari es krim menciptakan satu harmonisasi rasa yang sangat unforgettable,, bener-bener bikin mata merem melek. hehehe.
Total 'kerusakan' dari coba-coba hari itu kalo gak salah sekitar hampir 360K... wuih... thanks banget buat Bonet.. hihihihi..
Overall menurut aku, untuk kategori resto keluarga Italia, this is the best in town by far..Kalo pas ada duit lebih.. (atau mungkin ada yang mau traktirin aku), mau banget nih ke sini lagi.. hehehehhe. Untuk anak-anak, tersedia juga Kids Menu dengan porsi yang lebih 'friendly' untuk kapasitas perut mereka.

 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Other | | Location: | Jl. Cipete Raya No.14 Jakarta 12410 Telp. 021 - 769 7913 |
Wisata Kuliner minggu ini masih berlanjut pada hari Minggunya. Kali ini yang jadi 'target' kami (masih tetep sekeluarga.. papi, aku, pepet en edo), adalah restoran Sunda asal Bandung yang katanya baru aja membuka cabang di Jakarta. Lokasinya adalah di jalan Cipete Raya. Niat buat nyoba resto ini selain karena si pepet waktu ke Bandung dulu dah pernah cerita soal kelezatan Sambara, juga karena 'dikompori' oleh Pak Bondan dalam tayangan Wisata Kuliner yang diputar hari Jumat 10 Agustus 2007 yang lalu. Karena aku gak bisa nonton karena harus ngantor.. aku harus cukup puas denger cerita ulang si pepet yang menggambarkan bahwa si Oom Bondan hampir tak henti-hentinya memuji hidangan resto ini.. Uh, jadi makin gak sabar...
So, hari minggu kemarin kami sepakat untuk makan siang di sini. Ternyata resto ini bersebelahan juga dengan resto Dapur Sunda yang sama-sama mengusung hidangan khas Sunda.. Cuma biarpun sebelahan anehnya dua-duanya tuh rame pisan.. mau parkir aja agak susah. Lucky that we don't have to wait too long to get a seat.. walaupun di dalam juga rame banget.
Pertama masuk, jejeran aneka hidangan yang berderet rapih di atas meja kayu panjang udah bikin mata ini jelalatan abis.. belum lagi aroma yang tercium dari dapur yang terletak di bagian samping kiri depan, di belakang 'etalase' hidangan-hidangan yang menggugah selera itu.. ah, udah gak sabar rasanya untuk segera beraksi. hehehe.
Di resto ini, kita memilih langsung hidangan yang kita inginkan, seperti di kafetaria gitu dan mbak pelayan akan dengan sigap melayani dan mencatat pilihan kita itu di bon. Hidangan lauk unggas atau daging dan jeroan yang kita pilih biasanya sudah diungkep dan tinggal digoreng, sedangkan untuk sayuran atau pepes sudah siap saji. Kalau mau ambil aneka lalapan segar berikut aneka macam sambal (sambal mentah, sambel bajak, sambal hijau kencur, dan sambal oncom), kita tinggal ambil langsung sendiri di kotak-kotak kaca yang terletak di tengah ruangan. Pilihan lalapannya antara lain: daun selada, kemangi, daun tespong (hmm..kali ya..nebak aja, hehehe, anyway, this one is my favorite), timun dan terong bulat. Seharusnya tersedia juga Sayur Asem yang katanya medok banget itu, yang sepertinya disajikan for free (dengan jatah 1 meja 2 mangkuk). Hanya mungkin karena terlalu ramai, si sayur asem ini gak dateng-dateng.
Menurut rekomendasi Pak Bondan, hidangan yang pantang dilewatkan adalah semur jengkolnya.. well, walaupun aku bukan penggemar jengkol, tapi aku penasaran aja..untuk mencicipi semur satu ini yang katanya merupakan semur jengkol terenak yang pernah beliau cicipi. Very nutty, he said.. (wah, papiku termasuk pemakan jengkol so.. yo wis, aku order 1 porsi semur jengkol yang dibandroll Rp. 5.5 K saja). Hidangan lain yang kami pesan (jangan kaget yak hehehe):
- 1 bungkus nasi putih timbel (itu punyaku) = 4.5K - 1 bakul isi 2 porsi nasi putih (itu buat si edo en papi) = 7.5K (means.. @3.5K ) - 2 nasi tutug oncom (ini punya pepet plus tambahan si edo yang masih kurang sama 1 porsi nasi putihnya) @ 5.250 - 1 potong ayam goreng sambara = 9K - 1 potong ayam madu (mirip sama kalasan) = 9K - 1 ati-ampela goreng = 5.225 - 1 babat rawey (babat ungkep goreng) = 8K - 1 tahu bacem = 3.5K - 2 tempe bacem @ 3.5K - 1 porsi tumis daun singkong = 6K - 1 pepes telor asin = 6K - 1 pepes usus ayam = 6K - 1 potong lidah sapi goreng = 9K - 1 perkedel jagung = 3.5K - 1 porsi orak-arik peda = 6.5K - 1 es teh pandan = 8.5K - 2 es teh tawar = 8K (@4K) - 1 botol kecil air mineral (Oasis) = 4K - es batu (gila...es batu dikit aja diitung yak ternyata) = 2K 'saja'
Phiew.. selesai juga daftarnya.. hehehe
Tapi tolong jangan dibayangin kalo kami ini terlalu rakus mesen segitu banyak (walaupun ya... kadang emang ngaku suka rakus juga sih. hihihi). Tapi porsi-porsi yang ada di sini memang ditakar dalam wadah piring kecil, yang paling maksimal bisa dibagi untuk 3-4 orang saja (itu pun mungkin takarannya sendok teh kali yah :p).
Semur jengkolnya (yah, aku ngaku makan 1 potong.. eh, gak dosa ini kan makan jengkol.. emangnya kenapa?) ternyata memang endang gulindang bambang deh.. wanginya tuh bener-bener bersinergi dengan kegurihan bumbu dan citarasa nutty dari si jengkol itu sendiri.. papiku yang agak pemilih soal jengkol pun mengaminkan itu.. so, buat yang penasaran.. sok atuh..kalo ke sini pesen.. hehehe.
Overall semua hidangan kalo boleh aku kasih nilai 8. Paling suka banget sama sambel mentahnya yang enak buat dicocol segala lalapan.. pokoknya semua rasa sih top dah.. cuma berhubung rame banget, minuman pesanan kita gak diantar-antar sampai hampir setengah jam. Tapi untungnya tiap meja biasanya dapet gratis masing-masing orang 1 gelas teh hangat tawar yang selalu diisi kembali. Jadi kalo mau lebih ngirit, mungkin gak usah pesen minuman lagi. hehehe (lah, es teh tawar pandan tok masa 8.500 perak? bisa banget beda 4000 perak padahal rasa pandannya beneran gak berasa, gak keliatan juga lagi. cuma nambah 1 batang serai tok). Tadinya mau ngasih bintang 4, jadi terpaksa dikurangi jadi bintang 3 dulu. Mungkin nanti kalo memang pihak manajemen resto sudah punya solusi yang lebih baik lagi untuk menangani padatnya pengunjung resto tanpa harus membiarkan customer menunggu terlalu lama hanya untuk segelas minuman, mungkin akan kutambahkan 1 bintang lagi :p (sok pelit yak? hehehe).
Anyway, total kerusakan hari minggu kemarin itu adalah 142.148 Rupiah berikut PPn 10%.. Not too expensive.. mengenyangkan.. dan makanannya cukup memuaskan.. definitely will be back again! :D
Btw, buat yang penasaran.. ini ada alamat website nya.. Dicek aja dulu yah.. dibayangin dulu kira-kira nanti kalo sempet ke situ mau pesen yang mana. hehehe.
www.sajiansambara.com
PS: Kemarin dah nyoba Sambara yang di Bandung. Secara tempat, memang lebih comfortable dan cozy yang di Cipete, Jakarta. Cuma untuk beberapa menu, di Bandung harganya lebih murah. Yah, beda 500-1000 perak lah.. 
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Seafood | | Location: | Jl. Batu Ceper No. 69 Jakarta Pusat 10120 Telp: (021) 381 - 4063, 381 - 4434, 344 - 6412 |
Udah lama banget gak nulis review tempat-tempat makan yang aku kunjungin.. semua foto dan bill masih numpuk.. menunggu untuk diedit dan ditulis reviewnya.. cuma ah... males. hehehe. Cuma berhubung 'janjian' sama my sister to start reviewing restaurants , akhirnya aku mutusin untuk niat-niatin lagi..
So, now I start again with one seafood restaurant which is located not far from my home.. Udah bertahun-tahun jadi customernya, tapi baru kali ini nyempetin untuk review. Namanya Jun Njan Seafood Restaurant. Sesuai dengan namanya, spesialisasinya memang adalah seafood.. Namun demikian, resto ini juga menyediakan hidangan lain non-seafood yang tak kalah asiknya.
Sabtu lalu, kami sekeluarga (berempat) menyempatkan makan malam di sana setelah 'absen' sekian lama. Seperti biasa resto ini selalu ramai.. Pelayanannya ramah, cepat dan tangkas.. Kami malam itu memesan hidangan yang sama sekali gak boleh dilewatkan oleh pecinta seafood, khususnya udang yaitu Udang Rebus (55K). Memang sih, tampilannya biasa aja.. cuma kesegaran udangnya terasa sekali, ditambah lagi bila dicocol dengan saus seafood spesial yang jadi ciri khas restoran ini bertahun-tahun, wuiih.. mak nyusss...
Hidangan lain yang kami pesan adalah Burung Dara Goreng Mentega (50K) yang merupakan favorit papi, Ayam Rebus (Pha Cam Khe) yang disajikan bersama saus kecap asin dengan irisan cabe rawit rajangan daun bawang yang diiris serong (45K), serta yang juga tidak boleh dilewatkan.. Kailan Cah Sapi (45K) dan Cumi Goreng Ala Jun Njan (45K). Semua hidangan yang dipesan adalah dalam porsi Small (S). Ditambah beberapa gelas es teh tawar dan air mineral serta 7 porsi nasi (@ 4K) total kerusakan malam itu adalah 314.6K berikut ppn 10%.
Yang bisa digambarkan selain udang rebusnya yang unforgettable, daging sapi pada kailan cah sapinya terasa amat juicy dengan potongan yang generous.. Cumi gorengnya pun terasa sangat gurih dan harum dengan saus kecap-menteganya.. Overall, semuanya memuaskan..
Oh ya, restoran ini udah terkenal sampai ke mancanegara lho.. Kadang kalo pas lewat situ, suka terlihat bis-bis pariwisata yang mengangkut turis-turis dari Jepang, Taiwan ataupun negara-negara lainnya parkir untuk makan di sana. Tidak hanya itu, restoran ini juga sudah cukup banyak meraih beberapa piagam penghargaan yang bisa kita lihat tergantung di salah satu dinding resto. Di antaranya adalah penghargaan One of The Best In The World oleh Gastronomic International beberapa tahun yang lalu. Dan untuk teman-teman muslim pun tak perlu khawatir karena resto ini menyajikan hidangan yang 100% Halal.
Pokoknya worth to try lah.. :-)
PS: Sekedar tambahan.. kalo hari Senin, resto ini libur.. Selain di Batu Ceper , cabang lainnya adalah di Jl. Boulevard Raya Bl. FW/30-31 Kelapa Gading, Jakarta Utara 
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Plaza Indonesia Lt. 3 #F12,F12A,116D. Jl. M.H. Thamrin. Telp. (021)310-7620 |
Ini resto yang udah beberapa kali aku coba. Alasan dulu pertama kali nyoba resto ini sih karena kebetulan supervisornya tuh cowoknya sahabat aku. Kan kalo makan di sana siapa tau dapet diskon gitu.. hehehe. So, pas belum lama resto ini buka di Plaza Indonesia, aku dan Bonet menyempatkan diri untuk mencicipi hidangan di restoran ini.
Sesuai dengan namanya, resto ini menyajikan makanan khas malaysia. Kokinya sendiri katanya sih didatangkan langsung dari Malaysia dan merupakan koki yang sudah berpengalaman lebih dari 28 tahun. Begitu juga dengan bahan bakunya, diimpor langsung dari negeri Jiran tersebut.
Suasana restonya oke..dengan nuansa gold dan cokelat serta hijau.. pencahayaannya agak temaram gitu dengan lilin kecil yang ada di tiap meja memberikan atmosfer yang romantis.
Yang merupakan menu andalan di sini antara lain adalah: Seafood & Grilled terutama Deep Fried Garoupa yang disajikan dengan 4 macam saus yang berbeda dan bisa dipilih salah satu, Penang Char Kwetiaw, Deluxe Nonya (Paket Nasi Lemak Lengkap), Hailan Spring Roll, Roti Canai dan Chicken Curry, serta masih banyak lagi. Hampir semua menu-menu recommended tersebut udah pernah aku coba. Hehehe. Dan rasanya sih emang cukup lezat. Tapi dari semua yang aku recommend mesti dicoba adalah: Hailan Spring Roll, Roti canai dan chicken curry-nya (walaupun menurut aku roti chanainya agak terlalu crispy , meski sebelumnya kita dikasih pilihan mau yang crispy atau soft. Aku pesen yang soft, tapi tetep masih terlalu crispy buatku). Laksa Penangnya juga oke..dengan potongan udang galah yang menggiurkan. Minuman yang layak dicoba dan pantang dilewatkan adalah ambula juice alias jus kedondong yang rasanya seger banget..
Harga makanan mulai dari Appetizer berkisar antara 19K - 30K, Rice & Noodle 27K - 38K, Seafood & Grilled 23K/100 gr 80K, Meat & Poultry 35K - 52K, Vegetable 27K - 32K. Minuman berkisar antara 15K - 20K.
Kesimpulan.. tempatnya oke buat ngumpul bareng temen-temen juga untuk date romantis. Tersedia fasilitas hotspot juga bagi yang ingin nongkrong sambil surfing internet. Makanan dari skala 1 - 10 aku kasih nilai 7.5 deh.. (Kalo dapet diskon, aku jadiin 8 lah :p)

 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Chinese | | Location: | Senayan City Mall Lower Ground L-10-B |
Suatu minggu siang, (lagi-lagi) bersama Bonet, aku sepakat mau makan siang di Senayan City. Setelah muter-muter, akhirnya kami tertarik untuk mencoba satu resto di area lower ground floor yang bernama Nan Xiang Steamed Bun.. Pertama yang bikin kami tertarik karena sepertinya sih resto ini makanannya oke.. (sebelumnya pernah beberapa kali lewat sana dengan memendam rasa penasaran ingin mencoba). Tapi yang paling menarik minat kami untuk mencoba adalah tawaran diskon sebesar 25% bila menggunakan kartu kredit Mega Visa. Yo wis lah.. akhirnya kami masuk juga ke sana..
Tak lama kami duduk, pelayan datang membawa menu. Liat punya liat, well, harganya sih memang lumayan mahal.. Aneka pau dijual antara 18K-60K per porsinya. Main course mulai sekitar 35K. Yah..pikir-pikir ada diskon ini.. so, mulailah kami memesan 1 porsi Corn Soup With Chicken (15K), 1 porsi Mapo Bean Curd (45K), 1 porsi Duck Roll ala Shanghai (38K), 1 porsi Steamed Bun with Prawn and Chiken (24K), 1 porsi Cah Dou Miao (48K), 2 steamed rice (@6K) dan untuk dessertnya kami memesan 1 Almond pudding (15K). Minumannya aku pesan 1 teh tarik (15K), dan si Bonet pesan 1 Chinese tea (free).
Sambil menunggu pesanan datang., kami melihat di atas meja terdapat secarik kertas yang dijadikan alas makanan yang ternyata berisikan sejarah berdirinya resto tersebut yang ternyata sudah berabad lalu. Quite interesting... (cuma dah lupa buat diceritain di sini. hehehe).
Pesanan pun datang satu per satu. Supnya ternyata cukup banyak juga (dan ternyata pula di bon tagihan supnya dibuat menjadi 2 porsi, yang artinya harga yang ditagih menjadi 2 kali lipatnya.. uh, padahal maksudnya justru sengaja mau ngirit, pesan 1 porsi normal buat dishare berdua aja. Hehehe. Pedit :p). Supnya enak.. gurih banget kaldunya, dengan isian yang cukup banyak juga. Prawn and chicken steamed bun-nya juga enak.. hanya karena pada dasarnya aku kurang suka aroma jahe dalam makanan, jadi kurang gitu sreg aja..hehehe. Untuk bebek gulung (rolled duck ala shanghai), ternyata agak beda sama di gambar. Warna makanan yang datang lebih pucat ketimbang yang ada di gambar menu. Bentuknya berupa daging bebek yang digulung dan di dalamnya terdapat kuning telur bebek. Ternyata si bebek ini disajikan dingin seperti layaknya salad dingin campur. Rasanya.. not so special. Just so so lah. Sambil menunggu pesanan lain datang aku menyeruput teh tarik yang rasanya menurutku agak kurang nendang.. terlalu datar aja gitu.. rempahnya kurang menonjol. Mungkin sengaja dibuat se-mild mungkin ya secara ini adalah Chinese restaurant.. Chinese tea-nya harum melati.. kata si Bonet sih rasa dan aromanya oke lah.
Mapo tahu (mapo beancurd) dan Tumis Dou Miao a.k.a To Miau datang hampir berbarengan. Wuih..sepertinya oke nih.. Mapo tahunya nampak spicy dengan warna agak kemerahan. Mapo tahu memang masakan khas daerah Sechuan yang terkenal dengan masakan yang bercitarasa pedas. Tumis To Miau-nya segar sekali warna hijaunya.. Harum bawang putih terasa semerbak. Rasa tahu dalam mapo tahunya seperti meleleh dalam mulut. Mak nyusss banget. Jenis tahu yang digunakan seperti tahu sutera yang sangat lembut teksturnya. Namun demikian, potongan-potongan tahu dalam masakan sama sekali tidak hancur melainkan tetap utuh dalam bentuk dadu yang seragam. To miau dimasak dengan ketepatan api yang menghasilkan warna hijau yang indah dan rasa yang renyah namun tidak berbau langu. Enak sekali. Setelah ‘berjuang’ menghabiskan semua makanan, akhirnya kami sampai pada menu penutup berupa pudding almond yang disajikan dengan fruit cocktail. Tekstur pudding almond-nya pas sekali. Tidak terlalu lembek juga tidak terlalu keras, dengan aroma almond yang tidak terlalu tajam dan rasa manis yang pas. Kata Bonet sih lebih enak dari puding almond di Huang Ting yang belum lama pernah kami cicipi juga sebelumnya.
Akhirnya sambil mengelus perut yang kekenyangan, kami segera meminta bon tagihan. Harga total semua makan adalah 227K. Tapi untung ada diskon jadi yang harus kami bayarkan adalah 187K lumayan banget khan. Hehehe.. Kesimpulannya, kalo ada uang lebih, this place is pretty worth to try deh..

 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Eclectic | | Location: | Jl. Wahid Hasyim No.73, Jakarta Pusat. Tel. (021) 3160971 |
Di suatu sore, lagi-lagi janjian sama si Bonet (saat dia masih setia menemaniku testing food di resto, sebelum dia tergila-gila yoga..hiks.hiks), kami sepakat mencoba satu resto baru di daerah Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Namanya Kedai Tiga Nyonya. Outlet pertamanya ada di TIS Square, MT.Haryono. Di outlet kedua ini, Kedai Tiga Nyonya menempati lokasi bekas Resto Dua Musim milik Keke Harun yang sudah tidak beroperasi lagi. Bangunan resto lama dipugar total menjadi satu bangunan baru yang antik.
Memasuki Kedai Tiga Nyonya, kita seolah terlempar ke masa tempo doeloe. Konsep rumah keluarga Cina peranakan begitu kental dalam bangunan tingkat dua ini. Jendela-jendela besar, nuansa warna hijau merah, lampu sangkar burung, lukisan kuno, dan tempat tidur antik menghadap lounge menambah hangat suasana.
Menu makanan merupakan percampuran antara masakan rumahan Indonesia, Cina, dan Belanda. Konon, makanan tersebut dibuat berdasarkan resep–resep yang diperoleh dari keluarga pemilik resto ini secara turun temurun. Tidak sabar, kami berdua segera melihat daftar menu. Oopss.. it's a bit pricey.. Jadi mesti pinter-pinter dikit milih menunya agar tidak kebablasan. hehehe.
Untuk hidangan pembuka, dipilihlah lumpia semarang(16,5K). Untuk makanan utama Bonet memilih Lontong Cap Gomeh (lupa harganya :p), dan aku sendiri memilih Sop Asam Iga Sapi (45K) yang katanya merupakan salah satu favorite menu di sana. Untuk minumannya Bonet mencoba teh poci (12.5K), dan aku sendiri memilih Es Asam Jawa (15K). Katanya sih satu minuman yang mesti dicoba di sana itu namanya Cin Teng, minuman tradisional khas Cina yang terbuat dari buah lengkeng, biji lotus, dan herbal Cina dan konon berkhasiat untuk menyembuhkan panas dalam. Cuma kalo gak salah harganya agak mahal.. sekitar 30ribuan..jadi agak mengurungkan niat. May be next time aja deh. hehehe
Berhubung waktu itu kami datang saat bulan puasa, maka kami mendapatkan complimentary berupa bubur ketan hitam. Hmm..not bad.. lumayan :p. Sambil menunggu, kami menikmati suasana dan interior resto yang unik ini. Aku selalu suka sama yang berbau tradisional dan jadul alias jaman dulu.. (apakah itu berarti aku termasuk orang jadul? hihihi).
Minuman datang, bersamaan dengan si lumpia semarang (yang ternyata isinya cuma 3 pcs!). Segar setelah menyeruput minuman, aku dan Bonet segera menyantap lumpia yang rasanya lumayan enak... hanya saja kulitnya agak terlalu garing menurut aku. Tak lama pesanan lontong cap gomeh si bonet juga datang. Aku ikut nyicipin. Hmmm...gurih dan medhok banget bumbunya. Enak,, (padahal katanya mereka gak pake santan loh..). Pesananku juga akhirnya datang. Sup asam iga sapinya dihidangkan dalam satu steamboat kecil. Ternyata sup asam ini mirip seperti pindang. Rasanya asem-asem manis pedas.. dengan irisan tomat hijau. Enak banget deh.. Daging iganya juga tidak lagi masih merekat di tulang, melainkan sudah dilepaskan dari tulang dan dipotong dadu dengan ukuran yang lumayan besar. Pas banget deh buat teman makan nasi hangat..No wonder menu ini menjadi salah satu menu yang direkomendasikan dan menjadi favorit pengunjung.
Total kerusakan malam itu adalah sekitar 175K. Yah..lumayan deh. Pretty worth it. Kalo lagi ada dana lebih sih, mau aja nyoba menu-menu lainnya di sana. Oh ya, bila kita peduli akan kesehatan, maka bolehlah berlega hati karena resto ini menjamin bahwa mereka sama sekali tidak menggunakan MSG dalam masakannya. Mereka mengandalkan aneka rempah-rempah untuk menciptakan rasa gurih yang aman bagi kesehatan.

 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Italian | | Location: | Menara Cakrawala Lt. Dasar, Jl.M.H.Thamrin No.9 |
Suatu jumat malam, bersama dengan sahabatku si Bonet, kami sepakat untuk mencoba Pizza Marzano yang waktu itu belum lama dibuka di lantai dasar Menara Cakrawala (Mei 2006 lalu). Suasana yang langsung terasa saat memasuki resto ini adalah suasana retro-minimalis namun dinamis. Tiap meja dipercantik dengan sebuah vas kecil warna bening, dengan setangkai bunga aster warna merah. Pencahayaan yang cukup remang-remang sepertinya mampu memberikan tambahan atmosfer romantis.
Kami mulai melihat-lihat menu. Untuk appetizer, pilihan jatuh pada baked mushroom (Swiss Mushroom, baked with cheese on topped, and served with Gorgonzola sauce, 25K). Main course kami pilih Chicago Pizza ( minced beef, barbecue sauce, onion, cheddar, tomato sauce, 45K), dan Cannelloni agli spinaci (rolls of pasta filled with ricotta, spinach, tomato, parmesan Reggiano, I forgot the price..but it should be around 45-55K. hehehe). Untuk minumannya kami pilih blackcurrant ice tea yang refillable (15K).
Pesanan mulai datang satu persatu. Baked mushroomnya enak...dengan saus keju yang gurih. Apalagi bila ditambah Pepper crushed and tomato sauce.. simply nice :-). Cannelloni dihidangkan bersama roti-roti bulat berjumlah 6 buah, yang ternyata disebut 'dough balls'. Masih hangat, rasanya empuk namun ringan. Sekilas seperti ada sensasi keju di dalamnya. Sambil dicocol di saus cannelloni bener-bener mamamia..hehhehe. Untuk Pizzanya juga not bad at all. Kulitnya agak thin, but not crispy. Dengan sensasi saus BBQ yang cukup menonjol. Dibanding dengan pilihan pizza yang umum, di sini kita akan menemukan aneka pizza dan italian dishes lain yang lebih beragam. Total 'kerusakan' makan berdua malam itu sekitar 175.000 Rupiah!
Bonet and I agreed that overall, the taste is good and we planned to visit again next time. So..beberapa minggu kemudian, aku, Bonet dan Nike (Bonet's sister), kembali mengunjungi Pizza Marzano di tempat yang sama. Kali itu kami bermaksud untuk santap siang. Pesanan kali ini tentunya dibuat sengaja berbeda dengan yang pertama. Untuk minuman, kami masing-masing tetap memilih si Blackcurrant Ice Tea yang refillable (gak mo rugi.. hihihi), pembukanya aku order Cinque Formaggi Salad (mixed leaf salad, gorgonzola, parmesan Reggiano, feta, cheddar, emmental, tomato cherry, grapes, apple, chesnut, & Pizza Marzano dressing, around 60K), Lasagne pasticciate (layers of pasta with Bolognese, béchamel, parmesan Reggiano, 55K), Risotto Funghi (baked italian rice and mushroom, served with doughballs, around 45K), and American Hot (pepperoni, mozzarella, chillies, tomato sauce, 55K). Cewek-cewek rakus yak? hehehehe..
Saladnya segar banget..sausnya pas banget ada rasa asam-asam manisnya seperti menggunakan balsamic vinegar. Hanya saja kalau anda kurang menyukai bau keju yang menyengat, mungkin anda kurang menikmati potongan-potongan keju yang rasa dan aromanya masih kurang familiar secara kejunya banyak menggunakan jenis yang kurang umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Risottonya terasa agak keras berasnya.. agak kurang matang dikit sih kayaknya (atau memang dimaksudkan seperti itu ya..). Aku kurang recommended sih.. Untuk Pizza-nya not bad.. enak.. but i prefer Chicago to this one. Lasagnanya sih okelah.. pas banget. Total 'kebrutalan' kami bertiga siang itu around 340K. Tongpes dah..(untung ditraktir. hihihi) 
| |