Sejak liat reviewnya untuk pertama kali di majalah Sedap Sekejap beberapa bulan lalu, aku udah penasaran banget pengen nyobain resto ini.
Huize Trivelli digambarkan sebagai resto bernuansakan kolonial era tempo doeloe yang menyajikan masakan2 otentik khas Belanda dengan percampuran Jawa (khususnya Jawa Timur), mengikuti asal usul pemilik resto ini, Ibu Wahyuni Baliningtiyas yang berdarah Jawa Timur.
Menempati lokasi di sebuah rumah asli dari perumahan warga Eropa-Belanda yang dibangun sekitar tahun 1939, yang terletak di kawasan yang dulu dikenal dengan nama Laan Trivelli. Pada masa kolonial kawasan ini dibangun untuk area pemukiman milik bangsa Eropa-Belanda di Batavia.
Makanan yang disajikan merupakan hidangan Indische yang bisa diartikan sebagai masakan tradisional Indonesia yang telah disesuaikan dengan cita rasa dan disajikan secara Barat (dalam hal ini Belanda). Pilihan menunya lengkap mulai dari Appetizer alias makanan pembuka sampai dengan Desserts atau makanan penutup. Seperti halnya rumah makan tempo doeloe yang menyajikan hidangan peranakan Belanda, maka Huize Trivelli pun menyajikan menu khas berupa aneka
Rijsttafel , yang oleh resto tersebut dimasukkan dalam menu kategori Mini Rijsttafel in Harmonie. Menu Rijsttafel ini tersedia dalam beberapa pilihan mulai dari Mini Rijsttafel in Harmonie 1 - 4, yang isiannya berbeda2. Harga per porsinya Rp. 45K. Namun untuk bisa memesan menu Rijstaffel spesial ini, kita harus memesan 2 hari sebelumnya. Dan perlu diingat, bahwa Rijsttafel ini dibuat untuk minimal 6 orang.
Berhubung aku gak melakukan pemesanan terlebih dahulu, terpaksa aku mesti sedikit gigit jari gak bisa mencoba menu Rijsttafel yang bikin penasaran itu. Namun menu2 lainnya pun tak kalah menariknya. Jadilah aku yang Sabtu sore kemaren itu akhirnya berkesempatan untuk mencoba resto ini bersama dengan Iyong yang sama2 juga gemar wisata kuliner, memesan menu:
Champignon Soup (12.5K) ,
Chateaubriand Aux Champignons alias Beef Steak with Mushroom Sauce (45K) ,
Klappertaart Mousse (13.5K) dan
Fresh Orange de Coco (10K) . Sedangkan Iyong memesan:
Chicken Cream Soup (12.5K) , Black Pepper Steak (40K) ,
Macaroni Schotel (12.5K) , dan
Bier Pletok a la Creme (12.5K) .
Sambil menunggu pesanan datang, yang dilayani oleh para 'jongos', sebutan untuk pelayan pada masa kolonial Belanda yang ramah2 dan sangat santun, kami menikmati suasana antik resto yang terasa begitu tenang dan damai diiringi alunan musik jadoel yang rata2 beriramakan keroncong. Benar2 sangat menyenangkan sekali buat seseorang yang menyukai hal2 berbau sejarah sepertiku.
Pesanan pertama datang.. Minumanku Fresh Orange de Coco adalah jus sunkist yang dipadu dengan santan. Rasanya segar dengan aroma kelapa. Sedangkan Bier Pletok nya Iyong yang sedianya adalah wedang Jahe dengan campuran secang yang menjadikan warna minumannya merah menggoda dengan rasa jahe dan aroma kayumanis yang menghangatkan tubuh, berpadu serasi dengan tambahan 1 scoop ice cream. Menciptakan sensasi yang unik namun menenangkan.
Pesanan soup kami pun datang tak lama sesudahnya. Soupnya terhidang panas dengan rasa yang pas. Champignon soup ku terasa gurih nikmat, dengan rasa jamur yang renyah saat digigit. Juga dengan Chicken soup nya Iyong yang terasa sekali kaldu ayamnya. Mantaap..
Macaroni Schotel datang juga. Aku kebagian cicip lagi. Rasanya cukup pas dan gurih namun tidak bikin eneg. Cuma buat penggemar asin seperti aku (dan ternyata Iyong juga), macaroni schotel nya sedikit agak kurang asin sih.. but not bat at all.. Terasa sekali kalo macaroni schotel ini dibuat benar2
fresh from the oven .
Steak kami datang hampir bersamaan. Steak pesananku dagingnya terasa empuk dan ternyata di balik siraman saus jamur, dagingnya sudah dipotong2 memanjang. Rasanya pun cukup mantap. Sedangkan black pepper steak pesanan Iyong nampak menggoda dengan taburan black pepper yang cukup pekat. Rasanya pun cukup meresap ke dalam daging. Disajikan dengan brown sauce yang dihidangkan secara terpisah. Seluruh steak dilengkapi dengan setup sayuran yang terdiri dari brokoli, buncis, wortel juga lettuce dan tomat serta kentang goreng.
Klappertaart datang belakangan karena memang aku memesannya untuk disajikan setelah hidangan utama selesai. Rasa custardnya lembut membelai lidah, ditingkahi aroma dan sensasi rum yang cukup pekat. Daging kelapa mudanya pun terasa lembut digigit. Boleh juga.. hanya saja, lapisan putih telurnya agak terlalu tipis, jadi kurang berasa efek 'mousse' nya. Hehehe.
Overall, menu2 di resto ini boleh lah diacungi jempol. Apalagi dengan suasana resto yang sangat mengesankan, pastinya menambah kenikmatan tersendiri. Sesuai dengan slogan "Feels Like Home" yang diangkat oleh Huize Trivelli, maka menikmati hidangan di resto ini memang seperti makan di rumah karena suasananya yang memang benar2 homey banget dan pastinya, makanannya pun terasa seperti makanan rumahan. Mungkin ini dikarenakan resto ini konon pemiliknya menyiapkan sendiri semua menu yang ditawarkan, bahkan sampai kadang pun sampai belanja sendiri ke pasar untuk memilih bahan2 dengan kualitas terbaik. Masakan2 di resto ini pun diklaim tidak menggunakan bahan pengawet ataupun penyedap sintetis.
Dengan suasana jadoel dan hidangan yang ditawarkan, sebenarnya resto ini bisa pas banget buat acara2 keluarga bahkan candle light dinner karena memang terasa juga atmosfer romantisnya. Namun sayangnya, jangan harap untuk bisa makan malam terlalu larut di resto ini karena jam operasional resto ini adalah buka mulai jam 11.00 - 19.00 pada hari Senin - Jumat, dan pada hari Sabtu mulai jam 11.00 - 20.00 saja, sedangkan khusus untuk hari minggu resto ini tutup.
I definitely will come back again later.. and I'll make sure that next time, I'll get my Mini Rijsttafel.. hehehehe... (sapa mau ikutan..?)
special thanks to Iyong udah mau jadi partner wisata kuliner kemaren.. jangan kapok yah.. hehehe