Sepulang dari liat2 pameran di JCC bareng
Fifo yang lagi mampir di Jakarta dari dinasnya di Vietnam sabtu kemarin ini, aku berencana mau wisata kuliner bareng si
Iyong . Setelah diputuskan sebelumnya, kami sama2 mau nyobain
Huize Trivelli yang sempat bikin aku penasaran itu. Setelah putar2 sekitar Tanah Abang beberapa kali demi mencari resto yang awalnya diyakini Iyong bernomor 18, akhirnya kami pun sampai juga menemukan resto yang setelah dikonfirmasi lewat telepon ternyata bernomor 108! Pantas aja, gak nemu2.. lha wong beda gitu nomornya.. alhasil kami jadi ketawa2 menertawakan 'kebodohan' kami. A 'zero' here sure makes a really big difference! :D
Memasuki resto ini seperti memasuki sebuah lorong waktu di mana kita seakan dilemparkan kembali ke masa lalu. Sambutan pramusaji berseragam yang begitu ramah mengingatkan kita akan keramahan khas yang terkenal dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak dulu kala. Suasana di dalamnya terasa sangat hangat, nyaman dan tenang sekali. Begitu kontras dengan hiruk pikuk lalu lintas di luar sana.
Sepanjang mata memandang, tampaklah puluhan bahkan mungkin ratusan foto dalam frame yang dipajang baik itu pada dinding maupun di atas lemari ataupun meja. Begitu juga dengan aneka koleksi benda2 antik seperti piring2 dari porselen dan guci2 keramik. Belum lagi alat2 musik jadoel seperti gramofon, organ tua dan furniture2 antik lainnya. Semua menambah 'khidmat' suasana.
Resto ini terdiri atas beberapa ruang. Ruang depan yang menyambung ke ruang tengah, dan ruang bagian dekat teras, juga 2 kamar lagi yang semuanya pun didekor secara cantik. Di beberapa sudut pun nampak sofa2 cantik yang bisa digunakan untuk santai2 sambil menikmati hidangan atau juga mungkin membaca buku2 bersampul kuno yang tersedia di sana. Alunan irama musik tempo doeloe mengalun lembut, ditingkahi suara gemercik air kolam menambah tentram suasana resto. Benar2 pas banget buat dijadiin tempat buat santai dengan handai taulan.
Berminat untuk mengunjungi resto ini? Bisa baca review-nya di
sini :))